Pencak silat sebagai warisan budaya
Pencak silat adalah seni bela diri asli Indonesia yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Tradisi ini bermula dari Sumatra Barat dan Jawa Barat, kemudian berkembang ke seluruh penjuru Nusantara, dengan setiap daerah memiliki keunikan gerakan dan musik pengiringnya masing-masing.
Pada 12 Desember 2019, dalam Sidang ke-14 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Bogota, Kolombia, UNESCO menetapkan tradisi pencak silat Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage). Pengakuan ini menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri, melainkan juga jalan hidup yang mengajarkan hubungan baik dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Tradisi pencak silat memuat seluruh unsur pembentuk warisan budaya takbenda: tradisi lisan, seni pertunjukan, ritual dan festival, kerajinan tradisional, hingga pengetahuan dan kearifan lokal. Nilai-nilai persahabatan, saling menghormati, dan sportivitas menjadikan pencak silat identitas sekaligus pemersatu bangsa, dengan komunitas dan perguruan yang kini tersebar di lebih dari 50 negara.
Profil Persaudaraan Setia Hati Terate
Sejarah singkat berdirinya organisasi
Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dirintis oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada 1 September 1922 di Madiun, Jawa Timur. Beliau adalah murid dari Ki Ngabehi Soerodiwirjo, pendiri ajaran Setia Hati yang lebih dahulu berkembang di Surabaya sekitar tahun 1903 sebelum pindah dan berkembang di Winongo, Madiun.
Ki Hadjar Hardjo Oetomo dikenal pula sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan yang sempat dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda karena aktivitas perlawanannya. Sepulang dari pengasingan, beliau mendirikan Setia Hati Pemuda/Pencak Sport Club yang kemudian berkembang dan pada kongres pertama di Madiun (1948) disepakati berganti nama menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate.
Organisasi ini kemudian dibesarkan oleh generasi penerus, salah satunya R.M. Imam Koesoepangat, hingga tumbuh menjadi salah satu perguruan pencak silat terbesar di Indonesia dengan cabang dan warga di berbagai daerah maupun luar negeri.
PSHT menyatukan empat unsur utama dalam ajarannya: persaudaraan, olahraga, seni, bela diri, dan kerohanian — dengan falsafah dikenal luas: manusia dapat dihancurkan, dapat dimatikan, tetapi tidak dapat dikalahkan selama ia setia pada hatinya sendiri.
Jenjang keanggotaan ditandai dengan warna sabuk yang meningkat seiring lama dan capaian latihan: polos → jambon → hijau → putih (tingkat tertinggi, warga tetap).